DEBT COLLECTOR MENTEROR, ADUKAN LANGSUNG KEPADA APRIKINDO DAN YLKI

Laporan : H.Erry Budianto

Bandung-Surabayawebs.com

Jika pemegang kartu kredit  diteror oleh  debt collector  atau penagih hutang, silahkan mengadukan masalahnya kepada Asosiasi Pengguna Kartu Kredit Indonesia (Aprikindo). Keluhan nasabah kartu kredit  yang sebagian besar mengalami masalah tunggakan atau kegagalan pembayaran cicilan karena tagihan sangat tinggi ini akan ditampung Aprikindo dan akan dicarikan solusi penyelesaiannya.

“Sudah lebih dari sepuluh ribu orang pemegang kartu kredit yang bermasalah meminta bantuan kami karena diteror debt collector akibat  tunggakan dan gagal membayar cicilan disebabkan tagihan yang membengkakm,” ungkap Ketua Aprikindo Sulaeman Hara kepada wartawan di Bandung, Rabu 6/4.

Menurut dia, terror debt collector yang paling kejam bukan secara fisik, tapi membuat nama debitur  dicemarkan dan difitnah, melalui tetangga-tetangganya, tokoh masyarakat dan ketua RT atau Ketua RW di mana debitur  bertempat tinggal.

“Para debt collector sadis ini mengatakan bahwa para tetangga, tokoh masyarakat, Ketua RT dan Ketua RW telah melindungi  debitur yang bermasalah itu. Bahkan para penagih hutang  itu memarahi  tetangga debitur, mengapa  tidak tahu ke mana perginya debitur,” jelas Sulaeman Hara kemudian.

Prilaku  debt collector yang  “seenak udelnya” memarahi tetangga debitur, mencemarkan dan memfitnah nama baik debitur ini yang menimbulkan konflik yang rumit di mata Ketua Aprikindo ini. “Mungkin maksud debt collector itu agar debitur malu dan mampu membayar tunggakannya. Padahal  ini bisa dibawa debitur ke ranah hukum karena merupakan pencemaran nama baik. Bisa terkena  KUHP Pasal 351,” ujar  mantan senior sale  Lippo Life ini.

Yang disesalkan  dia, juga Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) siapa saja bisa jadi debt collector. Apalagi  yang bermuka  sangar dan berbadan kekar seperti  layaknya preman, langsung oleh perusahaan yang tidak berbadan hukum itu diterima sebagai penagih hutang.

“Padahal kalau debt collectornya berbuat semena-mena menteror melalui telepon, menganiaya dan menyiksa serta melakukan penyitaan barang debitur. Tidak akan menyelesaikan masalah. Namun menimbulkan masalah baru. Selain itu reputasi bank pemberi kuasa pun menjadi rusak dan tercemar. Seperti  Citibank sekarang,”  tutur dia lagi.

YLKI  bahkan menegaskan jika debt collector melakukan terror dalam bentuk apapun hendaknya masyarakat  melawannya. Karena di mata YLKI  pekerjaan penagih hutang itu harus dilakukan secara terhormat, elegant  dan menyentuh hati  pemegang kartu kredit  yang  bermasalah. Sehingga  debitur  bersedia membayar kewajibannya dengan ikhlas. Bukan dengan cara-cara premanisme. Saatnya debt collector membangun citra positif dan tidak mengabadikan citra buruk selama ini.

Sulaeman Hara juga mengakui keberadaan debt collector  sebetulnya tidak perlu dibubarkan karena kasus tewasnya nasabah kartu kredit Citibank, Irzen Octa di tangan para penagih hutang dan karyawan bank asing itu. Sebaiknya ditertibkan melalui regulasi  kartu kredit dan peranan penagih hutang. Artinya, debt collector itu harusnya minimal  sarjana bukan preman pasar.

Sehingga cara-cara mereka menagih kepada debitur dituntut  memiliki  pengetahuan yang luas tentang cara-cara halus tapi berhasil  mengetuk pintu hati debitur  untuk membayar  tunggakannya atau menyelesaikan kegagalan pembayarannya. Selain itu paling  tidak dengan latar belakang pendidikan yang memadai itu para debt collector juga mempunyai  pengetahuan tentang  hukum dan hak azazi manusia,” papar Ketua Aprikindo ini.

Dikemukakannya, sudah saatnya aturan standarisasi debt  collector itu diterapkan. Karena hal ini menyangkut dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun aturan kerjanya, termasuk sanksi jika terjadi pelanggaran hukum. Dengan demikian, diharapkan, debt collector dapat menjalankan pekerjaannya lebih baik dan  lebih professional.

Pihak badan hukum yang memberikan pekerjaan atau  bank yang memberikan kuasa, sudah seharusnya bersama  perusahaan pemberi  pekerjaan dan bank pemberi kuasa lainnya, tidak pernah lagi menggunakan tenaga debt collector yang telah melakukan pelanggaran hukum. “Tidak seperti sekarang, debt collector diberikan sanksi itu malah pindah ke agency lain dan meneruskan profesinya sebagai penagih hutang. “Coret dan black list debt collector yang telah melakukan pelanggaran hukum dan  hak-hak azazi manusia itu,” tegas Ketua Aprikindo ini.

Sementara itu  Gubernur Bank Indonesia (BI) Darwin Nasution, mengungkapkan, banyaknya tagihan macet  kartu kredit di masyarakat, karena masyarakat tidak mengetahui bahwa betapa tingginya bunga kartu kredit  yang dikenakan bank atas tagihan kartu kredit. “Sampai saat ini banyak nasabah yang tidak tahu bahwa kartui kredit itu bunganya lebih tinggi dari pinjaman biasa,” ujarnya kemudian. Konon bunga kartu kredsit itu bisa mencapai 40% sampai 60%. Bunga pinjaman biasa hanya berkisar 12%-16%  setahun.

Sehubungan dengan kasus  tewasnya nasabah kartu kredit Citibank, Irzen Octa Sekjen Partai Persatuan Bangsa (PPB) ditangan debt collector dan karyawan Citibank serta kasus penggelapan uang nasabah oleh Melinda Dee, senior  manager Citibank senilai  lebih dari Rp.20 miliar, pimpinan Citibank di Indonesia  dalam dengar pendapat dengan Komisi  IX DPR RI, mengakui, telah salah menerapkan SOP, internal audit secara berkala dan mutasi rotasi karyawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: